onlysenja

Blog EntryBerbeda, boleh kan?Apr 22, '07 3:15 AM
for everyone

IPDN (lagi-lagi) masih menjadi sorotan banyak pihak. Beragam solusi meluncur dari masyarakat. Tak terkecuali blogger yang menggalang petisi pembubaran IPDN. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para blogger yang sedang melakukan gerakan bawah tanah tersebut, namun saya—jujur-- kurang setuju dengan solusi pembubaran (bukan dengan petisinya).

Pembubaran bagi saya—maap-- adalah jalan keluar yang lari dari masalah. IPDN hanya label, hanya merek, sedangkan yang bobrok adalah sistemnya. Sistem ini bisa saja bermutasi ke dalam berbagai bentuk kehidupan yang lain. Tentu saja saya bukannya tidak sedih dan prihatin dengan korban-korban akibat kekerasan di IPDN. Kendati, belum menjadi ibu, toh saya sangat bisa merasakan bagaimana perihnya ditinggalkan seorang anak dengan jalan yang kurang wajar.

IPDN itu kan tak lebih dari selimut, sedangkan yang harusnya dibenahi adalah apa di balik selimut itu alias sistem. Sistem belajar yang tidak egaliter, kurikulum yang mengekang kebebasan berpendapat, budaya senioritas, label atau seragam yang mencerminkan rasa “saya lain dari pada anda”, proses penerimaan mahasiswa yang tidak transparan, pola pengasuhan yang harus dihapus, dll. Memang, ini semua butuh kerja keras, butuh pemikiran yang menyeluruh, butuh kemauan.

Melihat kondisi IPDN, pembubaran bukan lantas menjadi solusi yang bijak. Analoginya begini, Munir meninggal di atas pesawat Garuda, bukan berarti maskapai Garuda yang dibubarkan namun harus dicari siapa yang berada di balik skenario ini semua. Sebuah rumah di penuhi tikus, jalan keluarnya tentu saja tidak dengan merobohkan rumah tersebut, namun mengusir tikus dari sarangnya dengan berbagai cara. Atau, carut marutnya penataan ibadah haji oleh Depag, jalan keluarnya tentu tidak dengan peniadakan ibadah haji atau membubarkan Depag, namun harus dirancang sistem yang efisien dan profesional untuk pelaksanaan ibadah haji (kendati ada beberapa peristiwa yang tentu saja tidak pas di analogikan seperti kasus di atas)

Tidak ada yang bisa menjamin, apakah dengan pembubaran IPDN lantas kekerasan menjadi  surut di negeri ini. Kegiatan ospek atau perploncoan di sekolah-sekolah saat ajaran baru bukankah itu juga bentuk IPDN yang sederhana/kecil. Sistem-nyalah yang harus direnovasi dan di koreksi, budaya senior-junior inilah yang seharusnya cepat-cepat di luruskan kembali. Buka ruang diskusi yang selebar-lebarnya. Namun ini kan bisa memberikan efek jera? Oke efek jera memang penting, namun pemberantasan sistem kekerasan dengan disertai langkah hukum bukankah juga berefek sama?

Lebih dari itu semua, saya sangat salut dengan gerakan penggalangan petisi pembubaran IPDN oleh blogger. Bagi saya ini adalah sebuah fenomena komunikasi yang luar biasa. Sekian banyak manusia yang mungkin tidak kenal dan bahkan tidak pernah ketemu namun bisa menyatu karena disamakan oleh satu pemikiran yang sama. Gerakan yang bisa jadi bakal membuat pemerintah sadar bahwa kekerasa memang harus cepat-cepat diberantas. Kendati saya tidak tertarik untuk ikut tergabung dengan petisi tersebut namun, saya benar-benar bangga dengan gerakan sebagian teman-teman saya  itu. Sebuah pemikiran positif yang disumbangkan oleh anak bangsa kepada negerinya. Gerakan ini tentu saja adalah sebuah tanda cinta blogger yang notabene adalah anak Indonesia. Selamat berjuang!

Tentang perbedaan pendapat ini, ah tentu saja bukan lantas menjadi masalah besar. Perbedaan bukankah hal lazim yang bisa terjadi dimana-mana. Anda pun, yang membaca blog ini bebas untuk tidak setuju dengan pendapat saya.

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.