onlysenja

Blog EntryBenci PerpisahanApr 28, '07 4:10 AM
for everyone
Saya benci perpisahan. Sama saja seperti melihat pelangi di pagi hari, lantas menghilang kala siang menjelang. Ya, saya memang sedang kehilangan. Seorang partner bekerja. Dia memang bukan yang pertama. Ada sekian banyak perpisahan yang beberapa diantaranya membuat sedih. Semuanya menyampaikan salam di hari terakhir kerja.

Hai, kawan tidakkah kalian merindukan saat-saat kala kita bergulir bersama dalam waktu, bersama padatnya pekerjaan. Saat makan tempe penyet atau nasi goreng bareng. Menuliskan semuanya di memori kita, tentang kebersamaan, tentang persahabatan. Ah, bukan-bukan. Kau pasti ingat kemarin kita duduk berdampingan mendiskusikan sesuatu bersama. Saat itu kau tak bilang apa-apa. Bahkan kala ku berpamitan pulang di separuh malam. Kau bahkan tak memanggilku kembali.

Saya benar-benar benci perpisahan…….



Blog EntryBerbeda, boleh kan?Apr 22, '07 3:15 AM
for everyone

IPDN (lagi-lagi) masih menjadi sorotan banyak pihak. Beragam solusi meluncur dari masyarakat. Tak terkecuali blogger yang menggalang petisi pembubaran IPDN. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para blogger yang sedang melakukan gerakan bawah tanah tersebut, namun saya—jujur-- kurang setuju dengan solusi pembubaran (bukan dengan petisinya).

Pembubaran bagi saya—maap-- adalah jalan keluar yang lari dari masalah. IPDN hanya label, hanya merek, sedangkan yang bobrok adalah sistemnya. Sistem ini bisa saja bermutasi ke dalam berbagai bentuk kehidupan yang lain. Tentu saja saya bukannya tidak sedih dan prihatin dengan korban-korban akibat kekerasan di IPDN. Kendati, belum menjadi ibu, toh saya sangat bisa merasakan bagaimana perihnya ditinggalkan seorang anak dengan jalan yang kurang wajar.

IPDN itu kan tak lebih dari selimut, sedangkan yang harusnya dibenahi adalah apa di balik selimut itu alias sistem. Sistem belajar yang tidak egaliter, kurikulum yang mengekang kebebasan berpendapat, budaya senioritas, label atau seragam yang mencerminkan rasa “saya lain dari pada anda”, proses penerimaan mahasiswa yang tidak transparan, pola pengasuhan yang harus dihapus, dll. Memang, ini semua butuh kerja keras, butuh pemikiran yang menyeluruh, butuh kemauan.

Melihat kondisi IPDN, pembubaran bukan lantas menjadi solusi yang bijak. Analoginya begini, Munir meninggal di atas pesawat Garuda, bukan berarti maskapai Garuda yang dibubarkan namun harus dicari siapa yang berada di balik skenario ini semua. Sebuah rumah di penuhi tikus, jalan keluarnya tentu saja tidak dengan merobohkan rumah tersebut, namun mengusir tikus dari sarangnya dengan berbagai cara. Atau, carut marutnya penataan ibadah haji oleh Depag, jalan keluarnya tentu tidak dengan peniadakan ibadah haji atau membubarkan Depag, namun harus dirancang sistem yang efisien dan profesional untuk pelaksanaan ibadah haji (kendati ada beberapa peristiwa yang tentu saja tidak pas di analogikan seperti kasus di atas)

Tidak ada yang bisa menjamin, apakah dengan pembubaran IPDN lantas kekerasan menjadi  surut di negeri ini. Kegiatan ospek atau perploncoan di sekolah-sekolah saat ajaran baru bukankah itu juga bentuk IPDN yang sederhana/kecil. Sistem-nyalah yang harus direnovasi dan di koreksi, budaya senior-junior inilah yang seharusnya cepat-cepat di luruskan kembali. Buka ruang diskusi yang selebar-lebarnya. Namun ini kan bisa memberikan efek jera? Oke efek jera memang penting, namun pemberantasan sistem kekerasan dengan disertai langkah hukum bukankah juga berefek sama?

Lebih dari itu semua, saya sangat salut dengan gerakan penggalangan petisi pembubaran IPDN oleh blogger. Bagi saya ini adalah sebuah fenomena komunikasi yang luar biasa. Sekian banyak manusia yang mungkin tidak kenal dan bahkan tidak pernah ketemu namun bisa menyatu karena disamakan oleh satu pemikiran yang sama. Gerakan yang bisa jadi bakal membuat pemerintah sadar bahwa kekerasa memang harus cepat-cepat diberantas. Kendati saya tidak tertarik untuk ikut tergabung dengan petisi tersebut namun, saya benar-benar bangga dengan gerakan sebagian teman-teman saya  itu. Sebuah pemikiran positif yang disumbangkan oleh anak bangsa kepada negerinya. Gerakan ini tentu saja adalah sebuah tanda cinta blogger yang notabene adalah anak Indonesia. Selamat berjuang!

Tentang perbedaan pendapat ini, ah tentu saja bukan lantas menjadi masalah besar. Perbedaan bukankah hal lazim yang bisa terjadi dimana-mana. Anda pun, yang membaca blog ini bebas untuk tidak setuju dengan pendapat saya.

Blog Entryhome...home...Apr 18, '07 12:56 AM
for everyone

Kantor, 22.55 WIB

…….
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat (kita) kami sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
……..

Saya sedang rindu
Rindu Jogjakarta


Blog EntryAda Apa Dengan IPDN?Apr 10, '07 2:58 AM
for everyone
Ada banyak pertanyaan dibalik kematian praja IPDN Clift Muntu. Salah satu pertanyaan pentingnya adalah mengapa sekolah yang bertugas mencetak aparatur negara tersebut menerapkan sistem pendidikan preman seperti itu. Apalagi, berbagai pukulan ngawur yang disinyalir merupakan bagian dari santapan sehari-hari seluruh praja tersebut sangat tidak mendidik, karena dalam olahraga keras full body contact-pun menendang bagian dada tidak diperbolehkan. Alih-alih bakal merubuhkan lawan, si pemukul malah bakal dikurangi nilainya.

Kemarin saya berkesempatan bertemu dengan alumni IPDN angkatan sekian bernama mister X. Dalam obrolan ringan ini sedikit terkuak mengapa kekerasan menjadi barang lazim dalam institut yang berkampus di Jatinagor tersebut. Situasi awal pendirian IPDN (nama sekolah ini berganti-ganti, kami sepakat menyebutnya IPDN, red.) sebenarnya tidak berjalan seseram sekarang ini. Pukulan dan beberapa latihan fisik memang ada karena hal itu dianggap sebagai salah satu sarana untuk menegakkan kedisiplinan praja. Saat itu muridnya hanya berkisar—sebut saja-- 500 praja. Dengan fasilitas yang mencukupi untuk menampung jumlah tersebut kehidupan para mahasiswa berjalan kondusif.

Nah, saat era 90-an, semua pucuk pimpinan pemerintahan di daerah maupun pusat banyak dipegang militer, khususnya AD, misal walikota, bupati, dan gubernur. Hal jamak ini lantas memicu pemikiran—blunder menurut saya-- mendagri untuk meningkatkan kompetensi warga sipil yang menjadi praja IPDN agar kelak bisa bersaing dengan unsur militer yang merajai berbagai kedudukan di pemerintahan. Pemikiran ini lantas diterjemahkan dalam sebuah praktik semi militer dalam pendidikan praja di IPDN. Akhirnya IPDN pun tak ubahnya sekolah militer, bahkan hingga kini mereka kerap melakukan latihan bersama dengan TNI AD/dan semacamnya. Sistem ini dipandang akan melahirkan seorang praja yang loyal kepada negara. Kesalahan ini diperparah lagi kala, pengasuh sebagai lini terbawah yang langsung berhubungan dengan praja tidak dipegang oleh orang yang mumpuni dalam bidang pendidikan. Kata sumber saya tadi, terkadang orang yang biasnya bertugas di bidang administrasi atau perlengkapan pun bisa menjadi pengasuh.

Praktek tidak sehat seperti ini, lagi-lagi semakin merajalela karena jumlah praja dari tahun ke tahun bertambah pesat. Dari 500, menjadi 1000 setiap tahunnya. Penambahan mahasiswa ini ternyata tidak diimbangi dengan penambahan fasilitas kampus. Misal, satu almari yang biasanya di isi baju untuk satu mahasiswa kini menjadi 1 almari 2 mahasiswa. Padahal aturan kampus ini ketat sekali, termasuk mengatur ukuran lipatan baju dll. Logikanya, dengan semakin banyak baju di almari, tentu panjang lipatan tidak bisa sesuai dengan aturan. Analogi ini juga berlaku untuk fasilitas bersama lainnya. Efeknya, tentu saja makin banyak pelanggaran yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa. Minimnya fasilitas, rendahnya kompetensi pengasuh, dan adopsi gaya militer---yang bertujuan untuk menciptakan mahasiswa yang siap bersaing setelah lulus-- inilah yang menjadi salah satu pemicu mengapa sistem pendidikan IPDN carut marut seperti ini. Kekerasan tampak legal dilakukan di setiap angkatan. Jalan keluarnya tentu saja tidak lantas memasang kamera CCTV sebanyak mungkin atau membubarkan sekolah ini. Ada hal fundamental yang sebenarnya harus diubah yakni konsep berpikir. Apa pentingnya jika seorang calon aparatur negara hormat setiap kali bertemu senior? Atau dimana letak urgensinya, kala kesalahan harus dibayar mahal dengan pukulan tidak mendidik di daerah dada. Sedangkan menggelar kompetisi kempo untuk praja—misalnya—jauh lebih berguna karena memberikan pelajaran tentang arti sportivitas yang sesungguhnya. Sekolah aparatur negara sebagai pelayan masyarakat harusnya bisa menyerap kondisi kekinian dan menjadikan hal itu sebagai input yang memberikan output positif kepada rakyat. Kondisi sosial budaya plus cakrawala informasi dan juga semangat kejujuran dalam mengelola aset negara harusnya menjadi salah satu titik perhatian daripada sekedar main pukul-pukulan layaknya pengecut.

Obrolan saya dengan mister X  ini sebenarnya masih akan terus berlanjut, sebelum akhirnya terhenti karena sesuatu hal penting. Padahal masih ada satu pertanyaan yang menggelitik. Lantas wajah aparatur negara seperti apakah yang bisa diharapkan dari sistem pendidikan seperti ini???

 

Blog Entrynagabonar jadi 2Apr 8, '07 2:51 AM
for everyone
Ini adalah film tentang cinta, nasionalisme, hubungan ayah-anak, dan religiusitas. Komedia satir yang mengharukan. Ada banyak bagian di film ini yang bakal membuat anda meneteskan air mata dan beberapa diantaranya terbahak-bahak. Adegan saat Nagabonar melakukan monodialog di depan patung Jenderal Sudirman di salah satu ruas Jakarta membuat—entah mengapa—air mata saya meleleh. Saat itu dengan lantang Nagabonar bertanya mengapa jenderal besar ini tetap saja melakukan gerakan hormat sedangkan ribuan mobil yang melewati ruas jalan tersebut acuh.

Atau tengok saja adegan kala Nagabonar berdialog dengan Bonaga. Nagabonar berkata bahwa pantas saja Bonaga tak bisa menjelma menjadi laki-laki lembut dan romantis, pasalnya sejak kecil Bonaga tak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Tapi justru dididik oleh seorang Nagabonar yang keras dan mantan copet. Sebuah pengakuan lugu bapak kepada anaknya. Dan Bonaga pun hanya bisa termangu kelu...

Banyak cetusan-cetusan menggelitik yang bisa dipakai sebagai bahan perenungan. Apik tak menggurui, tapi merefleksikan kondisi jaman dan bangsa.

Jadi bagi yang sudah lama menantikan film berkualitas dan bosan melihat film horor—yang sangat tidak horor-- tak ada salahnya anda menyisihkan waktu membeli tiket Nagabonar Jadi 2. Selamat menikmati......



Blog Entryits meApr 8, '07 2:50 AM
for everyone
gatal juga melihat ada beberapa teman yang tidak bisa saya kunjungi secara intens karena mereka punya "rumah" yang berbeda dengan saya. jika sebelumnya rumah saya di onlysenja.ngeblog.net sudah sangat nyaman dan kerap jadi tempat ngumpul untuk mendiskusikan sesuatu sambil ngopi ataupun ngeteh--plus aneka kudapan-- kini di rumah kedua ini, saya juga ingin berbagi beranda plus tempat duduk dengan teman-teman sekalian. semoga nyaman nongkrong bersama saya di sini yaaa......

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.